Sabtu, 20 Agustus 2011

Budidaya Sawo ( Acrhras zapota. L )


1. PELUANG AGRIBISNIS
Sawo merupakan salah satu tanaman buah tropis yang banyak digemari orang, bukan saja orang Indonesia yang menyenangi sawo, tetapi juga orang Jepang,  Eropa dan Amerika menyenangi buah tropis ini.  Buah sawo banyak digemari orang karena buah yang masak memiliki rasa yang manis, daging buahnya lunak dan tidak memiliki serat. Manfaat tanaman sawo selain  sebagai makanan buah segar juga dimanfaatkan untuk bahan makan olahan seperti es krim, selai, sirup atau difermentasi menjadi anggur atau cuka

Buah sawo di Indonesia sampai saat ini belum banyak diekspor ke luar negeri. Hasil panennya hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebenarnya produksi buah sawo cenderung mengalamai peningkatan, tetapi semua itu belum dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan masyarakat. Dengan demikian masih dibutuhkan investor yang mau menanamkan modalnya untuk perluasan tanaman sawo. Peluang bisnis buah sawo sangat besar karena konsumsi buah-buahan berkembang dengan pesatnya
2.  KEUNGGULAN KOMPARATIF
Sawo Sukatali ST tergolong sawo apel yang dicirikan oleh buahnya yang berbentuk bulat atau bulat telur mirip buah apel, berukuran kecil sampai agak besar, dan bergetah banyak. Karakteristik Sawo Sukatali berbeda dengan sawo lain yaitu :
-          Memiliki rasa sangat manis yang tidak dimiliki sawo lain
-          Daya simpan yang lebih lama
-          Tekstur buah masak halus, tidak lembek, sehingga tak jarang orang menganggap masih mentah
-          Daya simpan lebih lama ( sekitar 5 hari)
4. LINGKUNGAN BUDIDAYA
4.1. Iklim
  • Daerah yang beriklim basah sampai kering. 
  • Curah hujan ; 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan 2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah dengan 7 bulan kering atau membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun. 
  • Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan). 
  • Suhu antara 22-32 derajat C.
5.2. Media Tanam
  • Tanah; Hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk pertanian cocok untuk ditanami sawo seperti lempung berpasir (latosol), andosol (daerah vulkan), alluvial loams (daerah aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung).
  • Struktur tanah ; subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. 
  • Derajat keasaman tanah (pH tanah) 6–7. 
  • Kedalaman air tanah antara 50 cm - 200 cm. 
  • Hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1.200 m dpl, optimal ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut.
5. WILAYAH PENGEMBANGAN
Sentra pengembangan Sawo di Kabupaten Sumedang adalah  Kecamatan  Ganeas, Cisitu, Situraja, Darmaraja
6. TEKNOLOGI  BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1.      Persyaratan Bibit
Saat ini tanaman sawo sudah dapat dikembangkan dalam dua tempat, yaitu di kebun dan di dalam pot. Bibit yang dipilih sebaiknya bibit yang berasal dari cangkok atau sambung, sebab bibit yang berasal dari biji lambat dalam menghasilkan buah. Bibit dipilih yang sehat dengan daun yang kelihatan hijau segar dan mengembang sempurna serta bebas hama dan penyakit. Bibit dari cangkok dipilih yang memiliki cabang atau ranting yang bagus dan sehat.
2.      Penyiapan Bibit
Untuk memperoleh bibit tanaman sawo ada beberapa cara, misalnya dari biji, sambung, dan cangkok.
a)      Pembenihan biji
Bibit yang berasal dari biji memiliki perakaran yang kuat dan dalam. Akan tetapi perbanyakan secara generatif hampir selalu memberikan keturunan yang berbeda dengan induknya karena ada pencampuran sifat kedua tetua atau terjadi proses segregasi genetis. Tanaman sawo yang berasal dari biji mulai berbuah pada umur ± 7 tahun. Teknik pembibitan tanaman sawo dari biji tidak banyak digunakan oleh para petani
b)      Bibit Asal Enten (Grafting)
Batang atas tanaman sawo sedangkan batang bawah tanaman ketiau atau melali (Bassia sp.). Metoda penyambungan mengunakan sambung pucuk (top grafting). Tata laksana memproduksi bibit sawo dengan cara sambung pucuk (top grafting) sebagai berikut:
1)      Persiapan
Siapkan alat dan bahan berupa pisau tajam, tali rafia atau lembar plastik, gunting, kantong plastik bening, batang bawah melali atau bassia umur 3-6 bulan atau berdiameter batang 0,3–0,7 cm, dan cabang atau tunas entres.
2)      Pelaksanaan sambung pucuk
  • Potong ujung batang tanaman bassia pada ketinggian 15–20 cm dari permukaan tanah. 
  • Sayat batang bawah membentuk celah atau huruf V sepanjang 3–5 cm. 
  • Sayat cabang entres sepanjang 4 cm membentuk baji seukuran sayatan batang bawah dan buang sebagian daunnya. 
  • Masukkan pangkal cabang entres ke celah batang bawah hingga pas benar. 
  • Ikat erat-erat hasil sambungan tadi dengan tali rafia atau lembaran plastik. 
  • Kerudungi hasil sambungan dengan kantong plastik bening selama 10-15 hari.
3)      Pengakhiran
Hasil sambungan dapat diperiksa 10 - 15 hari kemudian, dengan membuka kerudung kantong plastik, kemudian mata entres atau bidang sambungan diperiksa. Jika mata entres berwarna hijau dan segar berarti penyambungan berhasil. Sebaliknya, bila mata entres berwarna coklat dan kering berarti penyambungan gagal.
c)      Bibit Cangkok
Perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cangkok paling umum dipraktekkan oleh pembibit tanaman tahunan, khususnya buah-buahan. Kelemahan bibit cangkok adalah sistem perakaran kurang kuat karena tidak memiliki akar tunggang. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cangkok, antara lain:

  • Mempercepat kemampuan berbuah karena pada umur kurang dari satu tahun tanaman sudah mulai berbunga atau berbuah;
  • Memperoleh kepastian kelamin serta sifat genetiknya sama dengan pohon induk; 
  • Habitus tanaman umumnya pendek (dwarfing) sehingga memudahkan pemeliharaan dan panen.

Pencangkokan dapat dilakukan dengan menggunakan cabang kecil ( lingkar cabang < 2 cm) atau besar (lingkar cabang ≥ 2 cm). Kelemahan dari pengambilan cabang besar adalah terambilnya cabang-cabang tanaman dari pohon induk yang produktif, sehingga apabila jumlah cangkok dalam satu  pohon induk banyak, maka produksi buah pohon induk akan menurun
Tata laksana pembibitan tanaman sawo dengan cangkok adalah sebagai berikut:
1)      Persiapan
Siapkan alat dan bahan seperti pisau, sabut kelapa atau lembaran plastik, tali pembalut, kotak alat, tali, media atau campuran tanah subur dengan pupuk kandang (1:1), dan cabang yang cukup umur.
2)      Pelaksanaan mencangkok
-       Pilih cabang yang memenuhi syarat; ukuran cukup besar, tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhan baik, sehat, tidak cacat, dan lurus.
-       Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.
-       Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.
-       Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.
-       Kerik kambium hingga tampak kering.
-       Biarkan bekas keratan mengering 3 - 5 hari.
-       Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar, seperti Rootone F.
-       Ambil pembalut cangkok, berdasarkan pengalaman para pembibit buah-buahan, pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa
-       Ikat  pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.
-       Letakkan media pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk bulatan setebal ± 6 cm.
-       Bungkus media dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.
-       Ikat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.
-       Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, dan buat lubang-lubang kecil dengan cara ditusuk-tusuk lidi.
3)      Pemotongan bibit cangkok
Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang keratan.
4)      Pendederan bibit cangkok
-       Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran bibit cangkok.
-       Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang matang (1:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.
-       Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.
-       pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk mengurangi penguapan.
-       Tanamkan bibit tepat di tengah polybag sambil mengatur perakarannya secara hati-hati.
-       Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.
-       Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.
-       Simpan bibit di tempat yang teduh dan lembab.
-       Pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.
-       Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun / pot.
6.2. Pengolahan Media Tanam
a.       Persiapan
Areal untuk perkebunan sawo harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi dan sumber air.
b.      Pembukaan Lahan
-       Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
-       Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.
6.3. Teknik Penanaman
1)      Penentuan Pola Tanam
Tanaman sawo di kebun dapat tumbuh besar dengan tajuk yang lebar. Mengingat hal ini maka penanaman sawo harus dilakukan dengan jarak yang tidak terlalu rapat antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain. Jarak tanam untuk sawo yang dianggap cukup adalah 12 m x 12 m. Dengan jarak tanam seperti ini, antara tanaman sawo yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan yang dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
2)      Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi bibit yang akan ditanam. Untuk itu tanah tempat penanaman dalam lubang tanam haru gembur karena sistem perakaran bibit yang masih lemah. Lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Tanah galian bagian atas ±30 cm dipisah dengan tanah bagian bawah. Keduanya kemudian dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20 kg sampai rata. Pupuk kandang ini berfungsi sebagai pupuk dasar. Selama dua minggu lubang tanam ini dibiarkan terjemur sinar matahari. Bila bibit telah siap, bisa langsung ditanam di lubang tanam. Tetapi bila bibit belum siap tanam, maka tanah galian bagian bawah dikembalikan ke bawah dan tanah galian atas dikembalikan ke bagian atas. Sebagai tanda bahwa di tempat itu ada lubang tanam, dapat ditandai dengan kayu yang ditancapkan pada lubang tersebut. Setelah bibit siap tanam maka lubang tanam digali lagi.
3)      Cara Penanaman
Sebelum ditanam, pembungkus (polybag) harus dilepas dengan hati-hati agar tanahnya tidak berantakan dan perakaran tidak rusak. Penanaman dilakukan sedalam leher akar tegak di tengah lubang tanam. Masukkan tanah bagian atas bekas galian lebih dahulu, baru disusul tanah bagian bawah bekas galian. Tanah di sekeliling akar dipadatkan agar tidak terjadi rongga udara yang dapat menyulitkan akar mencari makan.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1)      Penyiangan
Setelah satu bulan sampai dua bulan tanam, perlu dilakukan penyiangan tanaman sawo untuk membersihkan rumput dan gulma yang mengganggu. Jika tanaman sudah tumbuh besar gangguan tersebut tidak berarti, tetapi jika tanaman masih kecil akan sangat berarti karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman sawo.
Gangguan tumbuhan parasit seperti benalu juga harus diperhatikan. Jika kelihatan pada ranting pohon sawo terdapat benalu atau parasit agar segera dibersihkan dengan cara memotong ranting tempat benalu menempel. Pemotongan sebaiknya dilakukan sebelum benalu berbunga. Perlu pula dilakukan pemberantasan benalu pada pohon lain di dekat tanaman sawo untuk mencegah penularan.
2)      Pembumbunan
Bersamaan dilakukan pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembumbunan dilakukan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang tumbuhnya.
3)      Pemupukan
Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gram urea/pohon/tahun sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun. Bila tanaman sudah waktunya berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang kandungan fosfor (P) dan kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gram per pohon tiap tahun.
Bila tidak ada NPK bisa diganti dengan pupuk urea, SP-36, dan KCl sebanyak 108 gram, 277 gram, dan 144 gram. Unsur P bagi tanaman berfungsi untuk mempercepat pembungaan, sedangkan unsur K berfungsi untuk menjaga bunga dan buah supaya tidak mudah gugur. Jumlah pupuk tersebut secara bertahap ditingkatkan sampai 2 kg/pohon tiap tahun untuk tanaman sawo yang telah berumur 15 tahun.
Selain urea dan NPK yang diberikan, perlu juga diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg/pohon untuk memperbaiki struktur tanah. Pemberian pupuk lanjutan tersebut dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan setengah dari yang disebutkan di atas. Cara pemberian pupuk dengan menaburkan pupuk ke dalam parit yang digali di bawah pohon mengelilingi lingkaran tajuk dengan lebar dan kedalaman ± 10 cm. Dapat juga ditanam pada empat lubang di bawah tajuk pohon dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm untuk tiap lubang.
4)      Penyiraman
Pada awal tanaman sawo memulai kehidupannya, perlu dilakukan penyiraman paling sedikit dua minggu sekali jika tidak ada hujan. Pemberian air pada tanaman sawo perlu dilakukan sampai tanaman berumur 3-4 tahun. Semakin tua tanaman, semakin tahan terhadap kekeringan. Kekurangan air pada waktu tanaman sawo sedang berbunga atau berbuah dapat menyebabkan bunga atau buah mudah gugur. Pemberian air yang baik dan teratur akan menghasilkan buah dengan jumlah dan kualitas yang baik.
5)      Pemangkasan
Secara alami  tanaman sawo dapat mencapai ketinggian 20 m. Ketinggian seperti itu akan menyulitkan pemetikan buah sehingga perlu dipangkas. Pemangkasan juga bertujuan membentuk sistem percabangan yang baik dan kuat.  Pemangkasan pada tanaman sawo, meliputi  pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan.
a)      Pemangkasan Bentuk
-       Tujuan ; mengatur ketinggian dan bentuk tajuk untuk memudahkan dalam pemetikan buah dan pengontrolan terhadap hama dan penyakit.
-       Pemangkasan pertama setelah  tanaman mencapai tinggi 100-160 cm.
-       Waktu pemangkasan musim penghujan dengan memotong ujung batang hingga ketinggiannya tinggal 75-150 cm.
-       Tempat pemangkasan sedikit di atas ruas batang. Untuk mencegah penyakit, luka bekas pangkasan dapat ditutup dengan cat meni atau parafin.
-       Setelah tumbuh tunas baru, tiga dari tunas yang tumbuh sehat dan tidak saling berdekatan dipilih sebagai cabang primer dan tunas lainnya dibuang
-       Pemangkasan ke dua dilakukan pada awal musim penghujan berikutnya, tunas yang telah berumur satu tahun dipangkas lagi hingga panjangnya tinggal 25-40 cm tepat di atas mata tunas.
-       Setelah tumbuh tunas baru, 3-4 tunas yang sehat dibiarkan tumbuh menjadi cabang sekunder dan tunas yang lain dipotong.
-       Pemangkasan ke tiga yang merupakan pemangkasan terakhir dilakukan pada awal musim penghujan berikutnya, cabang-cabang sekunder dipotong untuk membentuk cabang-cabang tersier.
-       Pemotongan dilakukan sampai cabang sekunder tinggal dua pertiganya.
-       Setelah muncul tunas-tunas baru. 2-3 tunas dari masing-masing cabang sekunder dibiarkan tumbuh, yang lainnya dibuang setelah tumbuh sepanjang 10 cm.
b)      Pemangkasan Pemeliharaan
-       Tujuan; mencegah serangan penyakit, menumbuhkan tunas baru untuk mengganti cabang yang tidak berproduktif lagi, dan mengurangi kerimbunan sehingga sinar matahari dapat dimasukkan ke mahkota tajuk.
-       Cabang yang perlu dipangkas adalah tunas air, cabang yang tumbuh liar, cabang sakit atau rusak, dan cabang yang terlalu rendah.
-       Pemangkasan pemeliharaan dapat dilakukan setiap saat jika diperlukan.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1)      Lalat buah(Dacus sp.)
Gejala: terdapat bintik-bintik kecil berwarna hitam atau cokelat pada permukaan kulit, tetapi dagin buah sudah membusuk.
Pengendalian:
-       Membersihkan (sanitasi) sisa-sisa tanaman di sekitar tanaman dan kebun;
-       Membungkus buah sejak stadium muda;
-       Memasang perangkap lalat buah yang mengandung bahan metyl eugenol, misalnya M-Atraktan, dalam botol plastik bekas;
-       Menyemprotkan perangkap lalat buah, seperti Promar yang dicampur dengan insektisida kontak atau sistemik;
-       Menginfus akar tanaman dengan larutan insektisida sistemik, seperti pada fase sebelum berbunga;
-       Menyemprot tanaman dengan insektisida kontak,.
2)      Kutu hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan Kutu cokelat(Saissetia nigra)
Menyerang ranting muda dan daun tanaman sawo dengan cara menghisap cairan yang terdapat di dalamnya. Selain menghisap cairan, kutu-kutu ini juga menghasilkan embun madu yang dapat mengundang kehadiran cendawan jelaga. Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida, yang disemprotkan langsung ke kutu-kutu tersebut.
7.2. Penyakit
1)      Jamur upas (Corticium salmonocolor)
Gejala:
-       Stadium rumah laba-laba; ditandai dengan munculnya meselium tipis berwarna mengkilat seperti sutera atau perak. pada stadium ini jamur belum masuk ke dalam kulit tanaman sawo;
-       Stadium bongkol; jamur membentuk gumpalan-gumpalan hifa di depan lentisel;
-       Stadium corticium;  jamur membentuk kerak berwarna merah muda yang berangsur-angsur berubah menjadi lebih muda lalu menjadi putih. Kerak yang terbentuk terdiri dari lapisan basidium. Pada setiap basidiumnya terdapat basidiospora. Kulit tanaman sawo yang terdapat di bawah kerak tersebut akhirnya busuk;
-       Stadium necator, yaitu stadium jamur membentuk banyak piknidium yang berwarna merah. Piknidium ini terdapat pada sisi cabang atau ranting yang lebih kering.
Pengendalian:
-       Pada stadium laba-laba, dapat diatasi dengan menggosok tempat yang terserang jamur sampai hilang. Bekas luka diolesi cat meni, ter, atau carbolineum;
-       Penyemprotan dengan fungisida.
-       Pemotongan pada bagian tanaman yang terserang apabila jamur sudah mencapai stadium bongkol, corticium, atau necator. Pemotongan dilakukan pada bagian yang sehat jauh dari batas bagian yang sakit. Bekas potongan diolesi dengan fungisida dan dibakar.
2)      Jamur jelaga
Penyebab: jamur Capnodium sp. Gejala: berupa warna hitam seperti beludru yang menutupi permukaan daun. Serangan lebih lanjut dapat menutupi seluruh daun dan ranting tanaman.Jika serangan berjumlah banyak, proses fotosintesa tanaman sawo akan terganggu sehingga pertumbuhan terhambat. Serangan yang terjadi pada saat tanaman berbunga dapat mengakibatkan buah sedikit. Jika yang terserang adalah buah, dapat menyebabkan kerontokan atau berkurangnya kualitas buah. Pengendalian: (1) melenyapkan serangga yang menghasilkan embun madu (2) dilakukan penyemprotan dengan fungisida seperti Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air atau Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air.
3)      Busuk buah
Penyebab: jamur Phytopthora palmivora Butl. Gejala: mula-mula kulit buah berbercak-bercak kecil berwarna hitam atau cokelat, kemudian melebar dan menyatu secara tidak beraturan, daging buah membusuk dan berair, serta kadang-kadang buah berjatuhan (gugur). Pengendalian: (1) dengan cara pemotongan buah yang sakit berat, pengumpulan dan pemusnahan buah yang terserang; (2) penyemprotan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8 gr – 2,4 gram/liter air.
4)      Hawar benang putih
Penyebab: jamur (cendawan) Marasmius scandens Mass, yang tumbuh pada permukaan batang dan cabang. Gejala: daun-daun mengering dan berguguran. Pada ranting yang mengering terdapat benang-benang jamur berwarna putih. Pengendalian: (1) mengurangi kelembaban kebun, memotong bagian tanaman yang sakit berat; (2) mengoleskan atau menyemprotkan fungisida, seperti Benlate dengan dosis 2 gr/1 air.
8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Tanaman sawo hasil pencangkokan dapat berproduksi umur 3-5 tahun, sedangkan hasil penyambungan antara 5-6 tahun. Buah sawo kadang-kadang matang tidak serempak sehingga pemanenan dilakukan dengan bertahap dengan cara memilih buah yang sudah menunjukkan ciri fisiologis untuk dipanen (tua).
Ciri-ciri buah sawo yang sudah tua adalah ukuran buah maksimal, kulit berwarna cokelat muda, daging buah agak lembek, bila dipetik mudah terlepas dari tangkainya, serta bergetah relatif sedikit. Pemetikan buah yang masih muda sebaiknya dihindari karena memerlukan waktu yang lama untuk pemeramannya dan rasa buah tidak manis.
8.2. Cara Panen
Umumnya pohon sawo cukup tinggi, buahnya terdapat di ujung batang muda yang jumlahnya hanya sedikit, sehingga untuk mengetahui buah yang cukup tua sangat sulit. Oleh karena itu, pemanenan dilakukan dengan cara memanjat pohon. Apabila belum mencapai buahnya, dapat disambung dengan galah. Namun penggunaan galah ini sering menyebabkan buah jatuh dan pecah. Pada buah yang jatuh tetapi tidak pecah, akan terjadi penggumpalan getah di sekitar bijinya. Ada anggapan bahwa penggumpalan getah ini disebabkan karena buah terserang penyakit. Walapun terdapat gumpalan getah di sekitar biji, tetapi tidak mengurangi rasa manis buah sawo tersebut. Untuk menjaga agar buah tidak pecah sewaktu dipetik, sebaiknya sebelum pemetikan, pada bagian bawah pohon diberi jaring agar buah tidak langsung jatuh ke tanah dan sebaiknya pemetikan dilakukan sebelum buah terlalu tua.
9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
Setelah semua buah yang sudah tua dipanen, kemudian dilakukan pengumpulan buah-buah tersebut. Kumpulkan buah-buah tersebut dalam suatu wadah atau tempat, setelah semua terkumpul, kemudian dilakukan pencucian untuk menghilangkan kulit yang kasar atau kulit gabusnya.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dan penggolongan dilakukan untuk memisahkan buah yang baik dari yang jelek dan memisahkan buah yang berukuran sama. Untuk buah rusak berat sebaiknya dibuang, tetapi buah yang rusak sedikit dapat dipisahkan untuk dijual ketempat yang dekat dengan harga murah.
9.3. Penyimpanan
Buah sawo yang sudah diberi perlakuan (pencucian dan pengasapan) mempunyai kulit yang sangat tipis sehingga mudah rusak dan tidak tahan lama dalam penyimpanannya. Buah sawo yang masak bila disimpan dalam temperatur ruang hanya tahan 2 hari sampai 3 hari, tetapi bila dalam ruangan yang mempunyai temperatur 00C, buah sawo tetap dalam keadaan baik selama 12 - 14 hari. Kelembaban (nisbi) yang dibutuhkan dalam ruang penyimpanan adalah 85-90%. Buah sawo yang yang belum masak tahan disimpan ± 17 hari dalam ruangan bertemperatur 150C.
9.4. Pengemasan dan Pengangkutan
1)      Pengemasan
Pengemasan buah-buahan di Indonesia, masih menggunakan keranjang bambu. Bentuk dan kapasitasnya bervariasi, biasanya kapasitas kemasan antara 40 kg - 100 kg. Dalam pengemasan buah digunakan bahan-bahan pembantu, misalnya daun kering, daun pisang, merang, dan kertas koran.
2)      Pengangkutan
Umumnya, petani penghasil buah di Indonesia mengangkut hasil panennya dengan kreativitas sendiri. Pengangkutan hasil ini dalam volume kecil, yaitu dari ladang ke tempat penampungan, pembeli, atau ke pusat-pusat pengumpul sehingga pemasaran tahap pertama dapat berlangsung.
9.5. Pengasapan dan Pemeraman
Pengasapan dan pemeraman dilakukan agar buah cepat masak dan empuk.  Tata laksana pengasapan dan pemeraman adalah sebagai berikut:
-       Buat lubang pada tanah berbentuk segi empat. Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah buah sawo.
-       Hamparkan dan gamal (Glyricidae) atau daun pisang di bagian dasar dan semua sisi lubang.
-       Masukkan buah sawo secara teratur ke dalam lubang, kemudian tutup dengan daun gamal atau daun pisang.
-       Masukkan potongan bambu gelondongan untuk menghembuskan asap ke dalam lubang.
-       Timbun lubang tanah hingga cukup tebal.
-       Bakar dedaunan kering, lalu asapnya diarahkan ke dalam lubang melalui potongan bambu.
-       Tutup atau ambil gelondongan bambu.
-       Biarkan buah sawo diperam selama sehari semalam.


0 komentar:

Posting Komentar